3 Kesesatan

Dalam Al Qur’an telah dikatakan bahwa kejahatan (kekufuran dan kebid’ahan) muncul melalui tiga sumber:

1. Mengikuti kemauan sendiri

Jalan yang pertama adalah kemauan diri manusia sendiri, Allah swt berfirman,

”…Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (terj. QS Al Qashash 28 : 50)

Ayat di atas mengartikan bahwa faktor terbesar penyebab kesesatan manusia adalah dorongan dari hawa nafsunya sendiri. Dan sama sekali tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi hamba Allah, sementara ia masih menuruti dorongan dari hawa nafsunya sendiri. Ia akan terus-menerus memikirkan pekerjaan apa yang akan mendatangkan uang baginya, usaha apa yang akan membawa kemasyhuran dan penghormatan orang padanya, kemana ia harus mengejar kesenangan dan kepuasan, dan apa saja yang bisa memberikan kemudahan dan kenyamanan hidup baginya. Pendeknya, ia akan menempuh segala macam cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut, tak peduli apakah Allah swt melarang cara-cara tersebut. Dan ia takkan pernah mengerjakan suatu apa pun yang dianggapnya tidak akan membawa tercapainya tujuan-tujuan tersebut, meskipun Allah swt memerintahkan untuk mengerjakannya. Jadi ‘Tuhan’ bagi orang seperti itu adalah dirinya sendiri (nafs), bukannya Allah Yang Maha Agung. Jadi, bagaimana ia akan mendapat manfaat dari petunjuk Allah? Allah swt berfirman,

”Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (terj. QS Al Furqan 25 : 43-44)

Bahwa menjadi budak hawa nafsu adalah lebih jelek daripada menjadi binatang, ini adalah suatu hal yang tak perlu diragukan lagi. Anda tidak akan pernah melihat seekor binatang pun yang mau melanggar batas-batas yang telah ditentukan Allah swt baginya. Setiap binatang memakan apa yang telah ditetapkan Allah swt baginya. Ia hanya melaksanakan fungsi yang telah ditentukan Allah swt baginya. Tetapi manusia adalah binatang yang apabila sudah menjadi budak hawa nafsunya sendiri, akan melakukan perbuatan-perbuatan yang bahkan akan membuat syaitan sendiri gemetar.

2. Mengikuti nenek moyang tanpa berpikir

Jalan yang kedua adalah mengikuti adat kebiasaan, kepercayaan-kepercayaan dan pikiran-pikiran, ritus-ritus dan upacara-upacara yang biasa dilakukan oleh nenek moyang, dan menganggapnya lebih penting daripada perintah Alalh swt. Bila perintah-perintah Allah swt dibacakan, maka orang-orang yang suka mengekor pada nenek moyangnya akan bersikeras bahwa mereka hanya akan mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka saja, dan akan melakukan apa yang telah menjadi kebiasaan keluarga dan suku bangsanya. Bagaimana orang yang telah terkena penyakit seperti ini akan dapat menjadi hamba Allah? Tuhan-tuhan mereka adalah nenek moyangnya, keluarga dan suku bangsanya. Hak apa yang dimilikinya untuk mendakwahkan bahwa dirinya adalah seorang Muslim? Di dalam Al Qur’an, Allah swt memberikan peringatan yang keras:

”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.(terj. QS Al Baqarah 2 : 170)

”Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (terj. QS Al Maidah 5 : 104-105)

Jahatnya kesesatan itu adalah demikian rupa, sehingga semua orang-orang bodoh di setiap zaman terkena cengkeramannya. Kesesatan selamanya telah mencegah mereka menerima bimbingan dari utusan-utusan Allah swt. Ketika Musa as mengajak kaumnya untuk mengikuti Syari’ah Allah, mereka menjawab: ”Mereka berkata: “Apakah kamu datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya, dan supaya kamu berdua mempunyai kekuasaan di muka bumi? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.”” (terj. QS Yunus 10 : 78)

Ketika Ibrahim as membujuk kaumnya untuk meninggalkan kepercayaan syirik, Mereka menjawab: “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya (patung-patung).”” (terj. QS Al Anbiyaa’ 21 : 53)

Begitulah, masyarakat selalu mengatakan hal yang sama kepada setiap rasul: ”Apa yang kamu sampaikan itu bertentangan dengan apa yang dilakukan oleh nenek moyang kami; karena itu kami tidak bisa menerimanya.” Demikianlah, dikatakan dalam Al Qur’an:

”Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (Rasul itu) berkata: “Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?” Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (terj. QS Az Zukhruf 43 : 23-25)

Setelah mengemukakan fakta-fakta ini, Allah Yang Maha Kuasa mengatakan: ”Kalian ikuti nenek moyang kalian atau kalian laksanakan perintah-perintah Kami. Pilih salah satu.” Karena kedua hal ini, memang, tidak bisa berdampingan bersama-sama. Bila anda mau menjadi seorang Muslim, anda harus mematuhi apa yang diperintahkan oleh Allah swt dan membuang yang lain-lain:

”Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang diturunkan Allah.” Mereka menjawab: “(Tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Dan apakah mereka (akan mengikuti bapak-bapak mereka) walaupun syaitan itu menyeru mereka ke dalam siksa api yang menyala-nyala (neraka)? Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (terj. QS Luqman 31 : 21-23)

3. Kepatuhan kepada selain Allah

Jalan yang ketiga, seperti dinyatakan dalam Al Qur’an, adalah apabila manusia mengesampingkan perintah-perintah Allah swt, lalu mentaati perintah-perintah manusia dengan macam-macam alasan, seperti misalnya ”karena bapak anu adalah seorang besar, maka kata-katanya mestilah selalu baik”, atau ”karena rezki saya tergantung pada orang itu, maka saya harus patuh kepadanya”, atau ”karena orang itu mampu menghancurkan hidup saya dengan kutukannya, dan mampu menjamin saya masuk surga, maka apa yang dikatakannya pastilah benar”, atau ”karena bangsa anu adalah bangsa yang maju, kita harus menitu cara-cara yang dipakainya”, dan sebagainya. Dengan diajukannya alasan-alasan seperti ini, tertutuplah pintu petunjuk Allah swt.

”Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah… (terj. QS Al An’am 6 : 116)

Ayat ini berarti manusia hanya bisa tetap berada di jalan yang benar, bila ia mempercayakan diri seratus persen kepada ‘Satu Tuhan’. Bagaimana manusia bisa menemukan jalan yang benar kalau ia mempercayakan diri kepada ‘ribuan tuhan’, dan sebagai akibatnya, sekali waktu ia harus mematuhi tuhan ini dan sekali waktu tuhan yang lain?

Sekarang anda tahu bahwa tiga sebab orang menjadi sesat: 1) Menghamba kepada diri sendiri, 2) Menghamba kepada adapt kebiasaan nenek moyang, keluarga dan suku bangsa, dan 3) Menghamba kepada manusia pada umumnya, termasuk orang-orang kaya, pemerintah yang berkuasa, ulama-ulama dan kyai-kyai palsu, bangsa-bangsa yang sesat, dan unsur-unsur lain yang semacam itu.

Itulah berhala-berhala besar yang selalu menjadi sembahan-sembahan manusia. Maka barangsiapa yang mau menjadi seorang Muslim yang benar-benar, mestilah ia menghancurkan ketiga macam berhala itu terlebih dahulu. Setelah itu barulah ia boleh menyebut dirinya seorang Muslim sejati. Kalau tidak, sulitlah baginya untuk bisa disebut hamba Allah. Mungkin saja, dengan menjalankan shalat lima waktu sehari, berpuasa di bulan Ramadhan, dan menunjukkan tingkah laku sebagai seorang Muslim, ia bisa menipu orang banyak, dan membujuk dirinya sendiri, bahwa ia adalah seorang Muslim, namun ia tak mungkin bisa mengelabui Allah swt.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s