Kaum Nasionalis Pewaris Tahta Qarun

war-bush-blair.jpgSebagian orang beranggapan bahwa, menggunakan metode Dakwah dan Jihad dalam upaya penegakan Syari’at Islam, cenderung mengabaikan aqidah. Namun ternyata anggapan tersebut salah, menegakkan Syari’at Islam melalui dakwah dan jihad tidak sekadar mengutamakan syari’at tanpa aqidah. Seperti yang difirmankan Allah swt dalam Q.S As Syura : 13 “Syara’a lakum minad diini ma wasshoo bihi Ibrohiim.” Dalam konteks ayat ini digunakan kata-kata “Syara’a lakum minad diini” (Aku syari’atkan kepada kamu di dalam agama ini). Jelas, Allah swt menegaskan bahwa aqidah adalah kesatuan dari syari’at. Artinya, menegakkan syari’at otomatis menegakkan aqidah.

Benarkah, mengutamakan spirit jihad cenderung mengabaikan aqidah? Ibarat orang minum teh, sudah pasti menggunakan air putih. Tidak ada orang minum teh memakai bensin. Artinya, bila seseorang minum teh, tidak perlu ditanyakan, apakah pakai air atau tidak. Pertanyaan pandir seperti itu akan membuat pelayan jadi kebingungan. Allah swt menyatakan, “Syara’a lakum minad diini”. Jika orang mengerti bahasa Arab tentu memahami, bahwa aqidah itu ada karena adanya syari’ah. Dan syari’ah itu yang membuat adalah Allah, sehingga tidak mungkin terlepas dari aqidah.

Bandingkan dengan hukum buatan manusia, yang tidak peduli pada aqidah dan akhlak, bahkan tidak peduli pada apapun juga selain kepentingan duniawi. Oleh karena hukum dibuat sesuai selera pembuatnya. Seringkali pembuat hukum itu sendiri yang paling bisa mempermainkan dan memanipulasi hukum buatannya. Karena hukum adalah proses kekuatan politik yang bekerja di dewan-dewan perwakilan rakyat. Adapun syari’at bukanlah proses perundingan manusia. Syari’at bukan take and break-nya kekuatan politik. Syari’at adalah wahyu Illahi, firman dari Allah swt tanpa ada kurang dan tanpa ada kelebihan. Maka apabila ada orang yang memisahkan aqidah dari syari’at berarti dia tidak mengenal firman Allah swt, “Syara’a lakum minad diini ma wasshoo bihi Ibrohiim.”

NOSTALGIA SEJARAH

Keluarga mukmin adalah keluarga yang berani memenuhi panggilan Allah swt, sehingga berani dalam melaksanakan Syari’at Allah, dan tidak takut dikucilkan manusia. Seseorang bisa menjual apa saja, termasuk aqidah-nya hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Itulah yang dilakukan Qorun, yang bersedia menjadi kacung Fir’aun, hanya untuk memuaskan hawa nafsunya. Qorun bukanlah sembarang orang, dia semula adalah ulama Bani Israil dan pamanda Nabi Musa as. Namun, karena takut tidak bisa makan, Qorun menjadi penasehat utama Fir’aun. Dia yang merancang semua strategi untuk menghalangi dakwah Nabi Musa as. Generasi Qorun kini beranak pinak menyebar ke seluruh belahan bumi.

Kilas balik meneropong sejarah peradaban manusia, siapa sebenarnya yang menjadi penghalang besar bagi perjuangan penegakan Syari’ah Islam?? Dan apa ideologi mereka?? Ternyata musuh besar bagi penegakan Syari’ah Islam adalah kaum nasionalisme. Kristen, Yahudi ataupun Hindu tidak akan berani berterus terang melawan Islam. Namun, mereka yang berkedok nasionalisme, berani menantang Islam terang-terangan. Dan ini sudah berlaku sejak lebih dari 8000 tahun yang lalu di bawah Raja Babilonia bernama Namrud. Sebagaimana Allah swt kisahkan dalam QS Al Baqarah 2 : 258, Apakah kamu tidak memperhatikan orang (Raja Namrud) yang mendebat Ibrahim tentang Allah, karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan)…?”

Manusia diingatkan kembali oleh Allah tentang sejarah kaum nasionalisme. “Tidakkah engkau (Muhammad) mengetahui seseorang yang membantah Ibrahim berkenaan dengan Tuhannya, padahal dia telah diberi kekuasaan oleh Allah?” Penyakit endemik para penguasa sejak dahulu adalah selalu melawan Syari’at. Dalam bingkai nasionalisme, Namrud berkata, “Aku yang berkuasa di negeri ini, aku bisa berbuat apapun yang aku mau, membunuh, menghidupkan, dan mematikan siapapun yang aku kehendaki.” Begitu hebatnya, semboyan kaum nasionalis dunia. Seperti di Indonesia ada Soekarno dan Soeharto yang memiliki semboyan jiwa patriotisme Pancasila tetapi menolak pelaksanaan Syari’at Islam di dalam lembaga negara, karena negara ini bukan hanya milik umat Islam saja.

Apa yang dikatakan Namrud kepada Ibrahim as, “Tuhanku adalah Dzat yang menghidupkan dan mematikan,” spontan Namrud berkata, “saya juga bisa mematikan dan menghidupkan.” Kalau Tuhanmu hanya bias sekedar menghidupkan dan mematikan, saya juga seperti Tuhanmu. Apa bedanya saya dengan Tuhanmu? Karena dia merasa memeiliki otoritas dan berkuasa di daerah kekuasaannya.

Ketika kaum nasionalisme menolak Syari’at Islam, merekapun berkata, “Kita tolak Syari’at Islam, karena Syari’at Islam itu berbau budaya Arab! Kita adalah bangsa Indonesia yang memiliki kepribadian dan kebudayaan sendiri, yang berbeda dengan bangsa Arab.” Namun, tatkala ditanya, “Bumi dan langit yang ada di Indonesia itu dibuat oleh Tuhannya siapa??” Kaum nasionalis bungkam seribu bahasa tidak bisa menjawab. “Tuhannya kaum nasionalis itu siapa??” Pertanyaan itu tidak pernah akan terjawab. Tetapi anehnya, kaum nasionalis yang gembar-gembor tentang kebangsaan dan kemandirian justru menjual para wanita dan pekerjanya ke luar negeri, lalu di mana semangat nasionalisme mereka? Ini salah satu kebohongan besar kaum nasionalis.

Siapa yang mengundang Freeport untuk menguras kekayaan Indonesia, kalau bukan nasionalisme Soeharto yang menanda-tanganinya. Menjual kekayaan negara ke bangsa asing, sementara rakyat dibiarkan kelaparan di Papua. Mengapa kaum nasionalisme tidak membongkar kekurang-ajaran pemimpin-pemimpinnya yang menjual negeri ini kepada bangsa asing?? Mereka menolak Syari’at Islam dengan alasan berbeda budaya, berbeda pendapat dan pemikiran. Mengapa kaum nasionalis tidak menolak masuknya modal asing yang akan mengeruk kekayaan bangsa Indonesia, padahal notabene mereka berbeda budayanya dengan bangsa Indonesia??

Kalau kaum nasionalis menolak karena perbedaan budaya dan peradaban, kenapa barang-barang Cina, Amerika dan Jepang bebas beredar di Indonesia tanpa dihalangi dengan alasan perbedaan budaya dan peradaban. Kenapa?? Mainan seharga 5.000 bisa dibikin oleh rakyat sendiri, tetapi didatangkan dari Cina. Hai, kaum nasionalis di mana matamu?? Sampah yang bisa dibuat di Kota Gede, didatangkan dari Cina. Sambal didatangkan dari Cina. Apakah mulut kaum nasionalis bisa membedakan sambal dari Kota Gede dan sambal dari Cina?? Kita harus menggugat kaum nasionalis. Mereka memiliki lubang yang paling berbahaya, karena bermuka dua alias munafiq kelas berat. Sejarah membuktikan kaum komunis tidak berani menentang Islam kecuali mereka berkedok di bawah kaum nasionalis. Mereka juga berkembang di bawah gerakan-gerakan Islam, dengan jargon “Islam kami bukan Islam Arab”. Apakah kaum nasionalis Islam memiliki Al Qur’an sendiri yang bukan berbahasa Arab?? Semacam Darmogandul dan Gatoloco?? Nabi kaum nasionalis itu siapa, sehingga berani melakukan diskriminasi ajaran Islam di Arab Saudi lain dengan di Indonesia, Malaysia dan Cina??

Ayat Al Qur’an ini menggambarkan bagaimana kaum nasionalis menjadi biang kerok seluruh kekuatan menghadang kaum muslimin sejak Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tidak kalah logika untuk menjawab, “Sesungguhnya Allah itu menerbitkan matahari dari timur, sekarang kalau kamu jadi Tuhan (Wahai Namrud), datangkan matahari itu dari barat.”

Kaum nasionalis merasa memiliki kekuasaan di negeri ini, karena nenek moyangnya ada di sini. Nenek moyang kaum nasionalis itu siapa?? Manusia atau kera seperti teori Darwin. Kalau urusan nenek moyang, nenek moyang orang Islam itu Nabi Adam. Nabi Adam dulu tinggalnya di mana?? Nenek moyang kaum nasionalis itu siapa?? Kalau kaum nasionalis nenek moyangnya kera, kera tidak pernah mengaku Indonesia ini sebagai bagian wilayah atau negerinya kera. Tidak pernah kera itu berwasiat, “Wahai kaum nasionalis, aku wariskan kepada kamu negeri Indonesia.” Mana mungkin kera berwasiat seperti itu??

Kalau Islam tegak di Indonesia, kaum nasionalis “keluar tanduknya”, marah bagaikan banteng ketaton. Orang nasionalis yang mengaku muslim selalu mengatakan, hubbul wathan minal iman (cinta kepada tanah air itu adalah iman). Nabinya siapa yang mengucapkan seperti itu?? Katanya itu adalah hadits nabi, nabi siapa?? Nabi itu ada namanya. Rangga Warsita atau Nyi Roro Kidul. Hubbul wathan minal iman itu bukan hadits. La ahla lahu, tidak ada sumbernya. Kalau hadits maudhu itu masih jelas sumbernya, siapa yang menjadi pembohongnya. Tapi kalau disebut laa ahla lahu, tidak ada sumbernya, itu datangnya dari syetan atau jin.

Maka kaum nasionalis itu bagian dari syetan dan jin. Mengapa mereka yang mempopulerkan slogan nasionalisme keberatan dengan berlakunya Syari’at Islam?? Kaum nasionalis beralasan bahwa Indonesia bukan hanya dihuni oleh orang Islam saja, ada berbagai macam agama. Hai kaum nasionalis, di Indonesia juga ada maling. Apakah anda akan memberikan kebebasan kepada maling-maling itu untuk menjalankan per-maling-annya di Indonesia?? Ada banyak terjadi korupsi, tapi kenapa anda memberantasnya, bukankah itu merupakan bagian dari budaya, walaupun itu jahat, realitasnya itu terjadi di Indonesia. Sebagaimana realitas adanya agama. Ada agama sesat, ada agama benar. Di sini keblingernya kaum nasionalis.

Nasionalisme adalah ideologi yang tidak bisa dicampurkan dengan kebenaran. Nasionalisme adalah sebuah ideologi di luar Islam yang ditolak oleh Allah swt, dan merupakan kekafiran. Itu sebabnya dengan bangga Namrud mengatakan, “Saya adalah penguasa dalam wilayah tanah air saya”. Itu adalah alasan kaum nasionalisme. Maka dengan kesombongannya mengatakan, “Sebagai seorang nasionalis akan mempertahankan supaya budaya nasionalisme tetap eksis.” Penguasa nasionalisme ketika ditanya tentang problema kehidupan ini menjadi bingung, sebagaimana kebingungan Namrud ketika ditanya oleh Nabi Ibrahim, “Tuhan Allah itu menerbitkan matahari dari timur, kamu coba kalau merasa punya kekuasaan terhadap negeri ini yang mengatur hitam-putih tanah air kamu, sekarang kamu terbitkan matahari dari barat.” Fabuhita Iladzii kafara. Namrud yang kafir itu bingung. Maka selama Indonesia dikuasai oleh kaum nasionalis, Indonesia tidak pernah mendapatkan solusi untuk menyelesaikan problem bangsa dan negeri ini.

Oleh karena itu, partai politik apapun di Indonesia dan siapapun yang menjadi pemimpin pemerintahan di Indonesia harus menempatkan kepentingan mayoritas muslim sebagai agenda utama dalam membangun identitas dan martabat Indonesia. Tuntutan ini disadari betul oleh pihak asing, seperti Presiden Rusia, Vladimir Putin, sebagaimana statemennya ketika menggalang kerja sama dengan Indonesia. Dengan demikian Indonesia akan tetap menjadi kekuatan penyeimbang internasional di era global kontemporer, khususnya di wilayah Asia Pasifik selama mayoritas muslim di negeri ini diberi peran yang kongkrit, include Syari’at Islam diberdayakan di negeri ini.

3 thoughts on “Kaum Nasionalis Pewaris Tahta Qarun

  1. Salah besar dan sangat jijik Statement anda..Indonesia begini itu karna kbykn orang yg mempunyai ideologi seperti anda, Anda jangan mengobok-ngobok Agama dgn Nasionalis, Di Islam aja gk bisa pernah bersatu, gitu kok mau ngurusi agama org,Ngaca pake kayu.

  2. nasionalis adalah sistem bukan personal, tolong bedakan object n subjectnya. kalo anda cinta pada sesama mungkin akan lebih baik jika statement anda lebih pada rasa kasih sayang pada sesama yang terdiri dari berbagai pola pikir, ideologis budaya dan etnis. kalo kita berpikir bahwa tuhan menciptakan mahluk dengan keaneka ragaman dan perbedaan tiada lain adalah untuk beribadah kepadanya agar lebih tau makna dan arti dari ciptanya agar tau tentang keagungannya.konsep dasar beribadah pada tuhan adalah tidak hanya menjalankan peribadatan, tapi bisa saling menyayangi antar sesama walau berbeda saling menghormati dan saling menghargai bisa disebut aktualisasi ibadah dalam hidup bermasyarakat di negeri ini khusunya. saatnya kita kembali pada konsep2 penting untuk bersatu menjadi bangsa yang mandiri, lepas dari cengkraman pihak2 yang tak bertanggung jawab. mengembalikan aset2 bangsa hanya dari rakyat dan untuk rakyat. kita mampu bergerak tanpa tergantung pada negara asing kita mampu kita mampu……amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s