HARAM mengucapkan NATAL….!!

Assalamu’alaikum wr.wb.

Selamat Ulang Tahun Ya Tuhan!”Wakaakaa…baca dulu nih jangan ikut2an cengar-cengir kayak kuda gitu…!!!
Kepada saudara kita yang terhormat,

Saya akan coba memberikan penjelasannya, Agama islam terdiri dari 3 pilar: akidah yang harus dipahami dan diyakini, syariah berupa ketentuan-ketentuan hukum yg wajib diamalkan dan akhlak yaitu norma-norma dalam interaksi manusia.
Pakar-pakar agama sepakat kalo kita tidak boleh mengorbankan akidah demi kerukunan hidup umat beragama maka dalam hal ini Umat Islam secara tegas dilarang menghadiri upacara/ibadah umat beragama lain, seperti perayaan natal, Karena bagaimanapun islam menjunjung tinggi Isa Almasih a.s namun pandangannya tetap berbeda dengan umat kristen.
Dalam mengucapkan Selamat Natal pada umat kristen ada baik kita pahami dahulu ucapan selamat natal yang diucapkan nabi Isa a.s sendiri dan diabadikan Al Qur’an
“Salam sejahtera untukku pada hari kelahiranku, wafatku dan kebangkitanku kelak” (Qs 19:33). Ini ucapan selamat natal ala Al-qur’an namun pada saat yang bersamaan kita juga meyakini bahwa Isa Almasih adalah hamba Allah yang diperintahkan untuk taat kepada Allah (QS: 19:30) dan meyakiani Beliau adalah utusan Allah seperti ucapannya kepada umatnya “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu maka sembahlah Ia, Inilah jalan yang Lurus” (Qs: 19:36)
Begitulah kiranya saat kita mengucapkan selamat natal kepada umat kristen hendaknya hati dan pikiran kita meyakini bahwa
Isa a.s sebagai Nabi utusan Allah bukan sebagai Tuhan atau Anak Tuhan. Adakah seorang muslim yang enggan mengucapkan selamat natal dengan maksud yang demikian
Mengucapkan “Selamat Natal” sudah ditentukan haram oleh sebagian besar ulama di manca negara dengan alasan yang sama. Dalam perkara ini, memang ada yang menyatakan boleh. Tetapi sebaiknya kita sangat berhati-hati terhadap orang kafir dan agama mereka. Kalau ada sebagian kecil ulama yang menyatakan boleh, maka sebaiknya kita mencaritahu terlebih dahulu tentang siapa diri mereka dan argumentasinya seperti apa. Ini disebabkan kenyataan bahwa ada orang yang bersifat sangat liberal sekarang dan inginkan supaya Islam menjadi lemah, pluralis, terbuka dan mudah diterima di negara barat. Contoh dari Nabi (saw.) tidak selalu menjadi patokan bagi mereka.

Keyakinan sebagian orang bahwa perkara ini tergantung niat kita adalah pendapat yang agak keliru. Justru salah satu fungsi dari ulama adalah memberikan kita fatwa berkaitan dengan hal seperti ini supaya kita tidak menjadi kaum yang sesat. Kalau setelah menerima fatwa yang jelas dengan dalil dan bukti yang jelas, kita masih bersikap “tergantung niat kita/ulama tidak perlu didengarkan” maka sudah pasti bahwa Islam akan hancur (cepat atau lama) karena hal yang persis sama telah terjadi di agama2 yang lain.

Coba berfikir begini: mengucapkan “Selamat Natal” adalah sama dengan mengucapkan “Selamat Atas Kelahiran Tuhan Dalam Bentuk Manusia Yang Disalibkan Untuk Menebus Dosa Kita Semua! Selamat Ulang Tahun Ya Tuhan!”

Tentu saja ucapan seperti ini adalah syirik, karena Tuhan tidak pernah lahir sebagai manusia dengan sekaligus tetap sebagai Tuhan Yang Maha Esa, dan tidak pula bisa dibunuh.

Apakah anda mau melakukan syirik dan mengucapkan kalimat yang panjang itu (atau versi singkatnya: Selamat Natal), hanya dengan alasan menghormati atau berbuat baik kepada orang kafir yang dila’nat Allah swt?

ALLAH MUSUH ORG KAFIR

[2.98] Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat- Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.

(Al Baqarah QS: 2.98)

Allah swt. mela’nat dan memusuhi orang kafir, tetapi ada orang yang ingin berbuat baik kepada mereka dengan cara ikut merayakan hari besar mereka di mana mereka merasa yakin Tuhan lahir dalam bentuk manusia. Sebaiknya, kita menjaga diri dan tidak ikut2an bersama mereka walaupun hanya sebatas ucapan.

Dari Ibnu Umar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk di antara mereka. (HR Abu Daud)

Mereka mengucapkan. Kita balas mengucapakan. Berarti kita menyerupai mereka. Allah sudah menentukan Islam sebagai agama yang benar, dan hanya Islam yang diterima di sisi-Nya.

HANYA AGAMA ISLAM YANG DITERIMA ALLAH

85. Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

(Ali Imron QS: 3.85)

[Ayat ini mirip 3.19 : agama yg diridhoi di sisi Allah hanya Islam]

Allah sudah membuat posisi-Nya jelas. Sekarang terserah kita: apakah kita mau tetap setia pada Kemauan Allah? Atau apakah kita mau tetap setia pada kemauan manusia yang sesat?

YAHUDI/NASRANI TDK SENANG HINGGA KAMU IKUTI AGAMA MEREKA

120. Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.

(Al Baqarah QS: 2.120)

Silahkan memilih sendiri. Saya tidak mau ambil risiko bahwa ucapakan Selamat Natal dicatat para malaikat sebagai syirik. Karena kalau memang begitu, maka saya akan kena dosa besar, yang tidak diampuni, dan akan masuk neraka hanya karena ingin menghibur hati tentangga/saudara yang dihitung Musuh Allah oleh Allah sendiri.

Kalau orang tua saya telfon dan mengucapkan Selamat Natal, maka saya jawab dengan “terima kasih” dan tentu saja saya sudah jelaskan bahwa saya tidak boleh mengikuti acara natal lagi. Walapun begitu, mereka masih telfon saya setiap tahun dan selalu kirim kado.

Agama Allah sudah jelas. Ajaran dan hukum Islam sudah jelas. Saya tidak mau menjual ayat Allah atau hukum Allah dengan biaya yang sedikit. Saya ingin berpegang pada ajaran Allah dan contoh Nabi Muhammad (saw.) dengan cara berhati-hati terhadap hal yang tidak 100% jelas, terutama kalau perkara itu datang dari agama lain yang dila’nat Allah.

Hadits Nabi dari Nu`man bin Basyir : “Sesungguhnya apa apa yang halal itu telah jelas dan apa apa yang haram itu pun telah jelas, akan tetapi diantara keduanya itu banyak yang syubhat (seperti halal, seperti haram) kebanyakan orang tidak mengetahui yang syubhat itu. Barang siapa memelihara diri dari yang syubhat itu, maka bersihlah agamanya dan kehormatannya, tetapi barang siapa jatuh pada yang syubhat maka berarti ia telah jatuh kepada yang haram, semacam orang yang mengembalakan binatang makan di daerah larangan itu. Ketahuilah bahwa setiap raja mempunyai larangan dan ketahuilah bahwa larangan Allah ialah apa-apa yang diharamkan-Nya (oleh karena itu hanya haram jangan didekati).”

Coba anda carikan hadiths di mana Nabi SAW mengucapkan Selamat Natal. Kalau ada, saya belum pernah melihatnya. Dan dengan demikian, mengucapkan kalimat itu, yang tidak pernah diucapkan Nabi SAW adalah bid’ah. Kalau ini adalah perkara yang baik untuk kaum Muslimin, maka tentu saja Nabi Muhammad SAW sudah mulai terlebih dahulu dengan tetangganya yang beragama Kristen.

SETIAP BIDAH ADLH SESAT

Dari Jabir ra. yg berkata : Bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda dalam khutbah Jum’at : “Amma Ba’du, Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah (Al-Qur’an), dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad SAW dan sejahat-jahatnya perbuatan (dalam agama) ialah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah (yang diada-adakan) itu adalah sesat.”

(H.R. Muslim)

Ada dua pilihan bagi kita:
1. Memilih jalan Allah yang jelas dan juga contoh Nabi Muhammad SAW yang jelas dengan tinggalkan perkara syirik, syubhat dan bid’ah.

2. Atau silahkan mengikuti kemauan orang kafir (dengan mengucapkan Selamat Natal). Dan sekaligus, silahkan mengucapkan “Selamat berzina”, “Selamat bermabuk-mabukan”, dan lain sebagainya. Kaum yang kafir terhadap agama Allah tidak hanya “senang” pada saat Natal, jadi kalau anda ingin “menghibur hati mereka” pada saat natal, semoga anda juga mau menghibur mereka pada saat mereka berangkat untuk berbuat dosa-dosa lain (yang dianggap halal bagi mereka juga).
Wallahu a’lam bish-shawab.
Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

buat mase yg pnya blog nuhun  geh..Allah yg ngebales yah…ikhlas to…he2

http://4119info.blogspot.com/2008/12/haram-mengucapkan-natal.html

8 thoughts on “HARAM mengucapkan NATAL….!!

  1. tergantung pemahamannya siapa dulu. kalo wahabi, sih, iya, haram ngucapin natal. tapi ulama yang melonggarkan juga ga kalah banyak, mulai dari yusuf qaradawi sampai ahli tafsir nomer 1 di indonesia, quraish shihab.

    nanya dasarnya apa? dasarnya adalah ketika rasul berdiri saat rombongan jenazah seorang yahudi lewat di depannya. sahabat2 tentu protes, jenazah “musuh” islam kok dihormati. dan jawab rasul, “aku berdiri untuk menghormatinya bukan atas dasar keyakinan, tapi atas dasar kemanusiaan.”

    • Klo kita meniru-niru mereka dengan bersenang-senang dengan hari raya mereka, berarti kita mengikuti budaya mereka. Dasarnya jelas, barangsiapa yang meniru suatu kaum berarti ia bagian dari kaum tersebut (al-hadits). Apakah dari Rasulullah juga memberikan contoh untuk mengucapkan selamat natal???kalaupun tidak ngapain kita harus mengucapkan selamat natal kepada mereka.

  2. Selamat Natal???
    Orang merayakan natal dikasi selamat???
    emang orang kalau natalan itu selamat???
    selamat di mana???
    di dunia??? di akhirat???
    SELAMAT GUNDULMU???!!!!!!!!

    • Orang kafir dan orang yang menyukutukan Allah pasti akan mendapatkan ganjaran berupa neraka jahanam. Allahu AKbar

  3. ah…masalah aqidah tuh udah lah !!kudu brani belain mati2an
    ga usah banyak pikir lagi.dah jelas dtgnya dari qur’an sunnah pake bertele2 segla.mank aturannya dari sono gitu knp pake nawar pula??sedikitpn ga mau ikutan urusn kafir dkk..boro2 nguucapin macem tuh pula…

  4. Allah sudah jelas mengatakan Untukmu agamamu dan Untukku agamaku kenapa kita harus bingung itukan dah jelas, kenapa kita gak tegas. jangan berani merubah hukum Allah,

  5. inilah Jalanku
    INILAH JALANKU
    By :Agung Gurnita

    Katakanlah, “Inilah jalanku, aku mengajak kalian kepada Allah dengan bashiroh, aku dan pengikut-pengikutku – mahasuci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik” (Q.S. Yusuf:108).
    Jalan dakwah panjang terbentang jauh ke depan
    Duri dan batu terjal selalu mengganjal, lurah dan bukit menghadang
    Ujungnya bukan di usia, bukan pula di dunia
    Tetapi Cahaya Maha Cahaya, Syurga dan Ridha Allah
    Cinta adalah sumbernya, hati dan jiwa adalah rumahnya
    Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
    Nikmati perjalannya, berdiskusilah dengan bahasa bijaksana
    Dan jika seseorang mendapat hidayah karenamu
    Itu lebih baik dari dunia dan segala isinya…

    Pergilah ke hati-hati manusia ajaklah ke jalan Rabbmu
    Jika engkau cinta maka dakwah adalah faham
    Mengerti tentang Islam, Risalah Anbiya dan warisan ulama
    Hendaknya engkau fanatis dan bangga dengannya
    Seperti Mughirah bin Syu’bah di hadapan Rustum Panglima Kisra

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah ikhlas
    Menghiasi hati, memotivasi jiwa untuk berkarya
    Seperti Kata Abul Anbiya, “Sesungguhnya sholatku ibadahku, hidupku dan matiku semata bagi Rabb semesta”
    Berikan hatimu untuk Dia, katakan “Allahu ghayatuna”

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah amal
    membangun kejayaan ummat kapan saja dimana saja berada
    yang bernilai adalah kerja bukan semata ilmu apalagi lamunan
    Sasarannya adalah perbaikan dan perubahan, al ishlah wa taghyir
    Dari diri pribadi, keluarga, masyarakat hingga negara
    Bangun aktifitas secara tertib tuk mencapai kejayaan

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah jihad
    Sungguh-sungguh di medan perjuangan melawan kebatilan
    Tinggikan kalimat Allah rendahkan ocehan syaitan durjana
    Kerja keras tak kenal lelah adalah rumusnya,
    Tinggalkan kemalasan, lamban, dan berpangku tangan

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah ta`at
    Kepada Allah dan Rasul, Alqur-an dan Sunnahnya
    serta orang-orang bertaqwa yang tertata
    Taat adalah wujud syukurmu kepada hidayah Allah
    karenanya nikmat akan bertambah melimpah penuh berkah

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah tadhhiyah (pengorbanan)
    Bukti kesetiaan dan kesiapan memberi, pantang meminta
    Bersedialah banyak kehilangan dengan sedikit menerima
    Karena yang disisi Allah lebih mulia, sedang di sisimu fana belaka
    Sedangkan tiap tetes keringat berpahala lipat ganda

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsabat (keteguhan)
    Hati dan jiwa yang tegar walau banyak rintangan
    Buah dari sabar meniti jalan, teguh dalam barisan
    Istiqomah dalam perjuangan dengan kaki tak tergoyahkan
    Berjalan lempang jauh dari penyimpangan

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah tajarrud (pembersihan diri)
    Ikhlas di setiap langkah menggapai satu tujuan
    Padukan seluruh potensimu, libatkan dalam jalan ini
    Engkau da’i sebelum apapun adanya engkau
    Dakwah tugas utamamu sedang lainnya hanya selingan

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah tsiqoh (kepercayaan)
    Kepercayaan yang dilandasi iman suci penuh keyakinan
    Kepada Allah, Rasul, Islam, Qiyadah (pimpinan) dan Junudnya (yang dipimpin) Hilangkan keraguan dan pastikan kejujurannya…
    Karena inilah kafilah kebenaran yang penuh berkah

    Jika engkau cinta maka dakwah adalah ukhuwwah (persaudaraan)
    Lekatnya ikatan hati berjalin dalam nilai-nilai persaudaraan
    Bersaudaralah dengan muslimin sedunia, utamanya mukmin mujahidin
    Lapang dada merupakan syarat terendahnya, itsar bentuk tertingginya
    Dan Allah yang mengetahui menghimpun hati-hati para da’i dalam cinta-Nya
    berjumpa karena taat kepada-Nya
    Melebur satu dalam dakwah ke jalan Allah,
    saling berjanji untuk menolong syariat-Nya.
    BERDA`WAH DENGAN HATI, AKAL DAN JASAD

    “Saya sudah tidak sanggup lagi. Mendingan saya mengundurkan diri…”

    Demikian bisikan seorang akhwat di tengah rapat yang berlangsung emosional. Suara ikhwan di balik hijab pun kian tinggi saja, bersahut-sahutan dengan sanggahan seorang akhwat senior di sisi lain. Menjelang hari-H, masih banyak pekerjaan panitia yang belum tuntas. Bagi segelintir panitia, P4L (pergi pagi, pulang pagi lagi)tampaknya menjadi suatu kemestian. Dan hari itu tibalah. Jumlah peserta melebihi target dan seluruh pendukung acara hadir. Alhamdulillah. Acara selesai dan dianggap lumayan sukses walau menyisakan hutang hingga bilangan jutaan.
    Ba`da itu, sebagaimana tiap usai kegiatan diadakanlah muhasabah. “Mari bersama-sama kita lapangkan dada serta membuang semua prasangka yang bisa merusak keikhlasan hati. Hendaknya selesai dari sini, kita semakin dikuatkan, semakin kokoh sebagai rijalud da`wah. Bukan sebaliknya…”, demikian ikhwan yang bertindak sebagai Steering Committee (SC). Sore itu masing-masing panitia bersalaman, berpelukan, sebagian menangis tersedu-sedu.
    Esoknya, hanya selang sehari pasca kegiatan, gumam-gumam kesal antar panitia masih kerap terdengar. “Abis dia yang berjam-jam nelepon lewat HP, eh malah malah kita yang disuruh kerja keras nalangin pulsanya. Kok enak bangeet?…”, demikian celoteh salah seorang panitia yang kebetulan diamanahkan di seksi usaha dana. Ataupun seorang ikhwan yang sampai bertekad ”Ana lebih baik mundur, selama masih ada si X di kelembagaan ini!”. Masya Allah, kemana menguapnya prinsip sabar, lapang dada, tsiqoh, saling bertausyiah,….semua prinsip yang indah-indah itu?
    Ini bukan penggalan fiksi dan sebenarnya kisah di atas masih panjang lagi. Kasus-kasus klasik tentang kerja yang terdistribusikan hanya pada sedikit orang, oknum panitia yang tidak amanah, gesekan-gesekan antar personal dan seterusnya tak lupa ikut menghiasi kinerja kepanitiaan itu. Singkatnya taujihat SC serta airmata yang mengalir ternyata masih menyisakan rasa gondok dan dongkol yang akibatnya fatal: ukhuwah yang cacat.
    Belum lagi bicara tentang “pendzoliman” terhadap keluarga, orang tua dan saudara-saudara di rumah yang juga harus sering menahan kedongkolan karena jomplangnya perhatian sang aktivis terhadap dakwah di luar rumah dengan perhatian terhadap keluarga. Belum lagi ancaman mengulang mata kuliah tertentu gara-gara sering ditingggal rapat manakala pada saat yang sama terngiang-ngiang jargon : “Aktivis ngga boleh punya IPK tipis!”
    Kalau sudah begini, alih-alih mensugesti diri dengan kalimah tauhid ”innallaha ma`ashoobiriin” bisa-bisa yang terucap malah : Pusiiiiing!…”

    Al-Insaan
    Prinsip Al-Insaan yang kita pahami adalah bahwa setiap manusia punya tiga potensi : hati (ruh), otak (akal), dan jasad. Kelengkapan tiga potensi ini merupakan syarat mutlak bagi seseorang agar berdaya secara utuh. Walaupun konsep ini sudah jadi santapan sejak awal tarbiyah, namun realisasinya memang tak seindah dan semudah yang dibayangkan. Tuntutan untuk bisa menjadi da`I yang itqon (profesional) dan cerdas berbarengan dengan tuntutan untuk menjaga hubungan antarmanusia.
    Pada saat seorang da`I terjun dalam aktivitas da`wah ammah, itqonul amal (profesionalisme) tampaknya memang menjadi keniscayaan. Berbekal hamasah (semangat) untuk meninggikan izzah diennya, profesionalisme menjadi kata yang ditulis besar-besar dalam buku agenda. Walau demikian, jangan lupa bahwa da`I yang notabene adalah manusia, bekerja dengan manusia pula. Dan tidak semua tipikal manusia bisa bekerja secara otomatis layaknya mesin. Ada manusia-manusia yang amat perasa dan ada juga yang sangat teoritis. Ada yang unggul dalam penguasaan fikroh, ada yang unggul dalam rutinitas ibadah mahdoh. Begitu seterusnya. Begitu beragamnya manusia, hatta manusia yang sama-sama tertarbiyah.
    Anyway once again, basiccaly all human beings need to filled in those three potentions. Semuanya butuh asupan untuk memenuhi keseimbangan fungsi-fungsinya. Maka, manakala seorang da`I menjadi “mati rasa”, menjadi sedemikian mekanis layaknya mesin, ia perlu ingat bahwa mesinpun butuh pelumas.
    Kesuksesan sebuah amal dakwah, taruhlah sebagaimana kegiatan pada kisah di atas, tidak dapat diukur hanya dari variabel-variabel yang kasat mata. Membludaknya peserta atau peliputan berbagai media massa tidak cukup menjadi indikator sukses sebuah amal dakwah apabila menyisakan hubungan yang retak. Ukhuwahlah yang seharusnya menjadi mesin itu. Dan ukhuwah, sangat terkait dengan ikatan hati (ta`liful quluub), terkait dengan kemampuan untuk berhubungan secara interpersonal. Sedangkan kekuatan hati itu tergantung pada quwwatus sillah billah (kekuatan hubungan hamba dengan Robnya).
    Demikian pula, da`I tidak bisa berkutat pada hubungan hubungan interpersonal semata dengan mengabaikan kerja-kerja teknis yang dibutuhkan bagi sebuah seminar misalnya, atau pementasan, atau akal, atau apapun jua agar menjadi sebuah kegiatan yang layak. Kegiatan itu toh juga butuh pasukan yang jiddiyah (sungguh-sungguh) mencari dana, menyebarkan publikasi, menata setting acara, dan kerja-kerja operasional lainnya.
    Semestinya tidak ada potensi manusiawi yang terdzholimi demi memenuhi yang lain. Menzholimi hati bisa berakibat turut terzholiminya fikri dan jasmani. Berharap bisa profesional, namun mengesampingkan kedekatan hati, baik antar personal maupun dengan kholiknya, maka rasa-rasanya itupun termasuk kezholiman.

    Ketawazunan Jama`I
    Oleh karena itu dalam setiap aktivitas yang melibatkan insaan, sekompleks apapun kondisinya, seberagam apapun kasusnya, Insyaallah akan menjadi aktivitas yang sukses tidak saja secara lahiriah namun juga kesuksesan yang hakiki, asal masing-masing dari ketiga potensi itu dipenuhi kebutuhannya secara adil dan bukankah justru itu itqonul amal (profesionalisme) yang sesungguhnya. Dengan begitu, konsep ketawazunan dalam Al-Insaan hendaknya difahami sebagai konsep yang tidak berlaku fardhi atau bagi orang per orang saja, namun lebih kompleks lagi juga berlaku di dalam sebuah sistem amal jama`i.
    Yakinlah bahwa teori yang indah di atas kertas itu juga bisa terwujud di lapangan bila bila setiap da`I tidak hanya ta`at mengikuti ta`limatnya, melainkan juga ta`at menjalankannya. Bila pendzholiman demi pendzholiman ini masih terjadi juga, maka mungkin di sela-sela kepenatan beraktivitas dakwah, kita perlu berkonsentrasi sejenak. Perlu membuka-buka lagi lembaran buku-buku kajian kita, dan tentunya juga membuka mata dan hati kita. Sebagaimana jingle iklan sebuah kopi instant “buka mata, buka hati, buka pikiran…”. “Sesungguhnya bersama kesulitan itu selalu ada kemudahan”.
    Wallahu`alam bishshowaab. (Tarbawi Edisi 8 Th.I 30 April 2000M)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s