Etika Muslim – Saat Bercanda

Etika dalam Bercanda

1. Hendaknya percandaan tidak mengandung nama Allah, ayat-ayat-Nya, Sunnah rasul-Nya atau syi`ar-syi`ar Islam. Karena Allah telah berfirman tentang orang-orang yang memperolok-olokan shahabat Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam, yang ahli baca al-Qur`an yang artimya: “Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab: “Sesungguh-nya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”.
Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”. Tidak usah kamu minta ma`af, karena kamu kafir sesudah beriman”. (At-Taubah: 65-66).

2. Hendaknya percandaan itu adalah benar tidak mengan-dung dusta. Dan hendaknya pecandaan tidak Baca lebih lanjut

Iklan

Kegiatan di Bulan Ramadhan

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan puasa kepada kalian sebagaimana (puasa) telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Al Baqarah: 183)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang yang beriman sebagaimana firmanNya di atas agar berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan yang sangat dinanti-nanti oleh kaum muslimin di seluruh dunia karena di dalamnya terdapat hikmah yang agung.

Kadang kita perlu beberapa agenda kegiatan yang dapat memberi manfaat bagi diri kita sendiri sehingga dapat terhindar dari kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah, bahkan malah mendapatkan dosa. Agar puasa kita berjalan seperti apa yang kita inginkan, berikut ringkasan 10 alternatif kegiatan di bulan Ramadhan yang bisa kita lakukan: Baca lebih lanjut

Kaum Nasionalis Pewaris Tahta Qarun

war-bush-blair.jpgSebagian orang beranggapan bahwa, menggunakan metode Dakwah dan Jihad dalam upaya penegakan Syari’at Islam, cenderung mengabaikan aqidah. Namun ternyata anggapan tersebut salah, menegakkan Syari’at Islam melalui dakwah dan jihad tidak sekadar mengutamakan syari’at tanpa aqidah. Seperti yang difirmankan Allah swt dalam Q.S As Syura : 13 “Syara’a lakum minad diini ma wasshoo bihi Ibrohiim.” Dalam konteks ayat ini digunakan kata-kata “Syara’a lakum minad diini” (Aku syari’atkan kepada kamu di dalam agama ini). Jelas, Allah swt menegaskan bahwa aqidah adalah kesatuan dari syari’at. Artinya, menegakkan syari’at otomatis menegakkan aqidah.

Benarkah, mengutamakan spirit jihad cenderung mengabaikan aqidah? Ibarat orang minum teh, sudah pasti menggunakan air putih. Tidak ada orang minum teh memakai bensin. Artinya, bila seseorang minum teh, tidak perlu ditanyakan, apakah pakai air atau tidak. Pertanyaan pandir seperti itu akan membuat pelayan jadi kebingungan. Allah swt menyatakan, “Syara’a lakum minad diini”. Jika orang mengerti bahasa Arab tentu memahami, bahwa aqidah itu ada karena adanya syari’ah. Dan syari’ah itu yang membuat adalah Allah, sehingga tidak mungkin terlepas dari aqidah.

Bandingkan dengan hukum buatan manusia, yang tidak peduli pada aqidah dan akhlak, bahkan tidak peduli pada apapun juga selain kepentingan duniawi. Oleh karena hukum dibuat sesuai selera pembuatnya. Seringkali pembuat hukum itu sendiri yang paling bisa mempermainkan dan memanipulasi hukum buatannya. Karena hukum adalah proses kekuatan politik yang bekerja di dewan-dewan perwakilan rakyat. Adapun syari’at bukanlah proses perundingan manusia. Syari’at bukan take and break-nya kekuatan politik. Syari’at adalah wahyu Illahi, firman dari Allah swt tanpa ada kurang dan tanpa ada kelebihan. Maka apabila ada orang yang memisahkan aqidah dari syari’at berarti dia tidak mengenal firman Allah swt, “Syara’a lakum minad diini ma wasshoo bihi Ibrohiim.” Baca lebih lanjut

3 Kesesatan

Dalam Al Qur’an telah dikatakan bahwa kejahatan (kekufuran dan kebid’ahan) muncul melalui tiga sumber:

1. Mengikuti kemauan sendiri

Jalan yang pertama adalah kemauan diri manusia sendiri, Allah swt berfirman,

”…Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (terj. QS Al Qashash 28 : 50) Baca lebih lanjut

DA’WAH KAMPUNG Sebuah Monumen Kepahlawanan . . .

dunia-fana.jpgChapter 1

Mengapa Da’wah Kampung

“Dan hendaklah ada diantaramu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

( Q.S. 3 : 104. )

“Segala sesuatu yang tidak menyentuh masyarakat akan berhadapan dengan kekuatan masyarakat.” Begitulah ungkapan Ust. Abdul Muiz Saadih, MA. Beliau menyampaikan ini setelah sekian lama berda’wah di masyarakat. Apakah Anda berfikir bisa menghabisi judi di tempat Anda tinggal, tentu itu tidak mudah. Jangankan judi, mengajak kakak atau adik untuk sholat di masjid aja sulit. Tentu kita pahami bahwa menyeru kepada mereka adalah hal yang pertama kali harus dilakukan sebelum kepada yang lain. Mengapa berda’wah kepada ortu, bukankah agar ortu kita mendukung da’wah kita. Sering ada masalah antara anak yang aktivis dan sok sibuk dengan ortu yang maunya nilai sekolah anaknya baik, da’wah kampung menyediakan jawabannya.

Siapa yang pertama kali diseru oleh Rasulullah, tentu istrinya dan menyusul Abu Bakar. Mengapa? Karena mereka adalah yang terdekat dengan Rasulullah dan paling diharapkan dukungannya. Lalu mengapa tidak sejak awal Rasulullah hijrah ke Madinah padahal beliau tau kalau di Makkah da’wah selalu ditentang? Karena beliau sadar bahwa suatu saat nanti akan sangat butuh dukungan orang-orang Makkah yang cukup untuk memulai da’wah di Madinah yang dukungan itu tidak bisa diberikan oleh orang Madinah. Baca lebih lanjut