Tentang Kami

Assalamu’alaikum Wr.Wb

“BERAKHLAQ MULIA DIMANAPUN BERADA”

LDK-FKUI adalah sebuah Lembaga Dakwah yang berdomisili disebuah Kampus di kota Solo. FKUI sendiri merupakan kepanjangan dari Forum Komunikasi Umat Islam…sedang LDK saya yakin semua orang sudah pada tahu…betul tidak..!!
Berbagai kegiatan ada didalamnya, antara lain :
a. Kajian Rutin / Liqo
b. Mabit
c. Safari Ramadhan
d. Shalat Idul Adha
e. Baca tulis Al-Qur’an
f. Pengajian Akbar
g. Masta Anggota Baru
h. Training ESQ
i. Kajian Muslimah
j. Rujak Ukhuwah
k. Ruqyah
l. dll…
Kegiatan yang benuansa islami termasuk didalamnya Rebana, Olahraga bersama etc.
Kesekretariatan : Jl. Haryo Panular No 18 A Surakarta

yahoo >> ldk_fkui@yahoo.com

mobile :
+628812978836

54 thoughts on “Tentang Kami

  1. ass. untuk akhi and ukhti saudaraku yang kucintai,,, ingat jaga mata jaga hati, ,,,,itu nomor atu alo ga mau teljelumus ke lubang ke maksiatan pacaran,,,,, saran : kalao lho2 pengen pacaran nikah dulu > baru pacaran ma istrinya sendiri pasti di jamin lebih halal end g dosa, , lebih bisa menjaga mata n hati,,,,,n jangan ngikut2 ma orang yang ga jelas,,,,,
    pacaran tu bikin boros sukaa sms n telpon2an,,,, selalu membayang2kan yang jorok2,,,, n parahnya bisa keblabasan tau deh akibatnye,,,,,banyak banget dehhh ruginnya…….
    ya kurang lebihnya gue salut deh ma FKUI pertahanin jadi ikon pendobrak kejahilan jaman dengan dasar2 Al-Qur’an n Sunnah Nabi SAW….oke…. selamat berjuang…..Allahu Akbar..
    Wass.

  2. Iya salam ukhuwah balik dari kita. semoga tetap semangat trus dalam dakwah. kapan2 silaturahmi ke politama. Allahu Akbar

  3. SALAM JOANG. Semoga Alloh Azza wa Jalla memberkahi dan senantiasa melindungi kehidupan kita. Bisakah tujeran link ataw mosting di sini? Syukron. Jajakallah…

  4. “Untuk memperoleh Kekuasaan, Kedaulatan dan Kemerdekaan Islam yang sejati maka perlulah dibangunkan kekuatan. Karena tanpa kekuatan, tidak mungkin tercapainya kekuasaan. Adapun yang dimaksudkan dengan kekuatan di sini ialah segala kekuatan, dlahir dan bathin, ideologis, politis, militer, psikologis, ekonomis dan lain-lain lagi; kekuatan dalam segala lapangan dan segi, yang menjadi syarat dan rukun untuk mencapai maksud tersebut…”

    Kalimat panjang diatas merupakan asas, dan metode perjuangan versi Imam Syahid Kartosoewirjo, yang dituliskannya dengan judul “Hikmah dan Ajaran dari Perjalanan Suci Isra’ Miraj Rasulullah Saw.”, 7 Rajab 1374 H. Kekuasaan, Kedaulatan dan Kemerdekaan Islam adalah tiga prinsip yang diyakininya akan sangat menentukan wajah masa depan Ummat Islam Bangsa Indonesia. Dan agaknya triumvirat prinsip itulah yang tidak pernah KITA lihat sejak Imam Kartosoewirjo Syahid, bahkan mungkin hingga hari ini.

    Menjelaskan dan mengilustrasikan wajah Negara Islam Indonesia berarti pula menjelaskan dua perspektif besar, yaitu: krisis yang kompleks sejak medio 1962 dan prognosis millennium ketiga (Benturan Peradaban) yang kini masih menjulurkan guritanya. Dua perspektif besar itulah yang telah meluluh-lantakkan topeng (bisa juga wajah asli) KITA yang telah “di-make up” bertahun-tahun. Sejak itu, tidak satu pun citra –yang selama puluhan tahun ditonjolkan dan terlanjur diyakini– mampu bertahan. Tragisnya, kenyataan transformatif itu belum cukup kuat menstimulasi perubahan yang signifikan. Dan masa-masa setelah itu membuat KITA semua sulit memastikan, apakah KITA berhadapan dengan wajah asli atau topeng. KITA terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan kontradiksi, inkonsistensi, serba paradoks dan ambivalensi.

    Tetapi, di coretan ini, KITA tidak untuk membahas krisis yang kompleks sejak medio 1962, apalagi untuk memperdebatkan dan mendakwa krisis yang pernah terjadi itu. Namun, di sini KITA bermaksud merefleksikan apa yang menjadi asas dan metode tersebut, yang diungkap oleh Asy Syahid Kartosoewirjo. Juga mencoba mengapresiasi apa yang dimaksud dengan prognosis millennium ketiga, dengan triumvirat yang diwariskan Imam.

    Sampai saat ini dunia bergerak menuju apa yang disebut oleh Samuel Huntington sebagai “Benturan Peradaban” . Suatu situasi hipotetis (prediksi yang belum terbukti) di mana Sistem-Sistem Nilai yang menopang peradaban sepanjang sejarah manusia akan beradu, untuk menjadi fihak yang berdiri terakhir. Bergilirnya ‘Sistem Nilai’ menjadi yang dominan di panggung dunia diramalkan oleh Huntington akan mencapai babak final di millennium ketiga. Mungkin apa yang dibicarakan Huntington ada, dalam rangka memenuhi ramalan yang dibuat Fukuyama tentang The End of History .

    Samuel Huntington bukanlah orang sembarangan di Amerika Serikat. Dia adalah seorang ilmuwan yang diperhatikan oleh para pembuat kebijakan di sana. Seperti, konon, Miriam Budiardjo di Indonesia pada era Orde Baru. Jadi apa yang dibicarakan oleh Huntington, itulah sebenarnya apa yang ada di dalam kepala para pengambil kebijakan di Amerika Serikat dan sekutunya. Kesimpulannya, para pengambil kebijakan Amerika Serikat dan seluruh sekutunya sudah bersiap-siap sejak lama dan kini sedang memerangi ‘Sistem Nilai’ di luar ‘Sistem Nilai’ mereka. Termasuk memerangi Islam.

    “Bagaimana dengan Ummat Islam?” Sejak tahun 1924 M tak ada satupun kesatuan politik yang mendeklarasikan keberadaannya sebagai pelindung Ummat Islam. Praktis, baru sampai kemudian pada tahun 1949 di Indonesia, dunia mengenal sebuah perjuangan Ummat Islam yang berani memproklamasikan sebagai kedaulatan politik Ummat Islam (Negara Islam Indonesia dalam 7 agenda besarnya jelas-jelas hendak bertindak sebagai embrio bagi Khilafah Islamiyah). Kenyataan sejarah memperlihatkan, bahkan semenjak kemunduran Turki Usmani, begitu banyak Ummat Islam di dunia yang harus menanggung perjuangan yang keras menghadapi kolonialisme negara-negara Eropa.

    Di sini lah letak penting kekuasaan. Ummat Islam mesti memiliki kekuasaan. Kekuasaan untuk bisa memerdekakan Ummat Islam. Kekuasaan dalam artian organisasi yang memiliki legtimasi formal yang diakui , yang memungkinkan penerapan seperangkat peraturan yang berdasar suatu ‘Sistem Nilai’ tertentu di wilayah tertentu. Karena tanpa kekuasaan tidak mungkin Ummat Islam bisa bebas menjalankan misinya di dunia ini. Kekuasaan yang dimaksud disini, bentuk kongkritnya adalah Dawlah Islamiyyah. Suatu kedaulatan politik lengkap dengan segala kelengkapan ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Inilah yang diinsyafi oleh para sabiqun al awalun dulu saat merumuskan Negara Islam Indonesia. Perjanjian Renville yang kemudian memicu lebih jauh keinsafan ini pada waktu itu. Pada awalnya RI yang diproklamasikan tahun 1945 dianggap menampung aspirasi Ummat Islam Bangsa Indonesia. Tapi sejak ditinggalkannya Ummat Islam di Jawa Barat untuk berhadapan sendirian dengan Belanda, Ummat Islam Bangsa Indonesia sadar bahwa Ummat Islam Bangsa Indonesia harus kembali mengangkat senjata membentuk kedaulatan politik sepenuhnya berkhidmat pada Ummat Islam.

    Adapun kekuasaan takkan mungkin bisa dicapai tanpa kekuatan. Kekuasaan mustahil bisa dicapai tanpa kekuatan, seperti mustahilnya muncul api tanpa dibakarnya kayu atau minyak. Seperti Muhammad dahulu menegakkan kedaulatan politik di Yatsrib, beliau pun menegakkannya dengan harta, senjata dan nyawa. Hingga wajar bila Yatsrib berganti nama menjadi Madinah (Menurut beberapa ahli bahasa Arab kata Madinah berarti tempat tegaknya Din al Islam, tempat tegaknya ‘Sistem Nilai’ Islam). Begitulah Muhammad telah mencontohkan pada KITA. Wajar bila kesimpulannya bagi KITA: Dawlah takkan tegak kecuali dengan perjuangan, perjuangan yang memakai harta, senjata dan nyawa. “Lalu bagaimana kabar perjuangan KITA? Masihkah perjuangan KITA menggeliat memenuhi agenda Negara? Masihkah KITA konsisten dengan apa yang menjadi cita-cita Negara?”

    Yang menjadi hukum dasar bagi kekuatan adalah titik fokus. Sinar matahari yang menyebar takkan mampu membakar kertas. Tapi sinar matahari yang difokuskan oleh lensa cembung, kekuatannya bisa membakar kertas. Berbicara kekuatan bukan cerita tentang kuantitas, tapi berbicara tentang pengorganisiran kekuatan yang tersebar. Dari pelajaran lensa cembung ini semestinya KITA mendapat hikmah.

    Langkah pertama adalah refleksi atas perjalanan perjuangan KITA selama ini. Jawablah pertanyaan: “adakah perjuangan KITA masih memiliki kekuatan?” Langkah kedua adalah mengkonfigurasi ulang seluruh sistem perjuangan KITA. Pertanyaan yang mesti dijawab pada langkah ini: “pengorganisiran macam apa yang bisa membangkitkan kekuatan Negara Islam Indonesia di situasi kekinian?”

    Pemikiran di atas-lah yang menjadi renungan EMPIRIS, sekiranya ini-lah kerja KITA bersama ke depan. Tantangan dari luar sebegitu hebatnya, menantang KITA untuk mengimbanginya dengan kekuatan yang sama hebat, dengan kekuasaan yang sama hebatnya, dengan kedaulatan yang juga sama hebatnya, demi kemerdekaan Ummat Islam Bangsa Indonesia (UIBI), agar Ummat Islam dapat menjalankan misinya di dunia ini.

    Tanpa kekuatan yang bisa mengantar pada kekuasaan, tanpa kekuasan yang bisa menghasilkan kedaulatan, tanpa kedaulatan yang berarti tanpa kemerdekaan, bagaimana Ummat Islam bisa menghadapi Benturan Peradaban yang diwujudkan oleh penganut ‘Sistem Nilai’ non Islam? Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Semuanya itu menjadi tugas KITA. Semoga.

  5. KITA MASIH MEMILIKI KEKUATAN

    “Untuk memperoleh Kekuasaan, Kedaulatan dan Kemerdekaan Islam yang sejati maka perlulah dibangunkan kekuatan. Karena tanpa kekuatan, tidak mungkin tercapainya kekuasaan. Adapun yang dimaksudkan dengan kekuatan di sini ialah segala kekuatan, dlahir dan bathin, ideologis, politis, militer, psikologis, ekonomis dan lain-lain lagi; kekuatan dalam segala lapangan dan segi, yang menjadi syarat dan rukun untuk mencapai maksud tersebut…”

    Kalimat panjang diatas merupakan asas, dan metode perjuangan versi Imam Syahid Kartosoewirjo, yang dituliskannya dengan judul “Hikmah dan Ajaran dari Perjalanan Suci Isra’ Miraj Rasulullah Saw.”, 7 Rajab 1374 H. Kekuasaan, Kedaulatan dan Kemerdekaan Islam adalah tiga prinsip yang diyakininya akan sangat menentukan wajah masa depan Ummat Islam Bangsa Indonesia. Dan agaknya triumvirat prinsip itulah yang tidak pernah KITA lihat sejak Imam Kartosoewirjo Syahid, bahkan mungkin hingga hari ini.

    Menjelaskan dan mengilustrasikan wajah Negara Islam Indonesia berarti pula menjelaskan dua perspektif besar, yaitu: krisis yang kompleks sejak medio 1962 dan prognosis millennium ketiga (Benturan Peradaban) yang kini masih menjulurkan guritanya. Dua perspektif besar itulah yang telah meluluh-lantakkan topeng (bisa juga wajah asli) KITA yang telah “di-make up” bertahun-tahun. Sejak itu, tidak satu pun citra –yang selama puluhan tahun ditonjolkan dan terlanjur diyakini– mampu bertahan. Tragisnya, kenyataan transformatif itu belum cukup kuat menstimulasi perubahan yang signifikan. Dan masa-masa setelah itu membuat KITA semua sulit memastikan, apakah KITA berhadapan dengan wajah asli atau topeng. KITA terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan kontradiksi, inkonsistensi, serba paradoks dan ambivalensi.

    Tetapi, di coretan ini, KITA tidak untuk membahas krisis yang kompleks sejak medio 1962, apalagi untuk memperdebatkan dan mendakwa krisis yang pernah terjadi itu. Namun, di sini KITA bermaksud merefleksikan apa yang menjadi asas dan metode tersebut, yang diungkap oleh Asy Syahid Kartosoewirjo. Juga mencoba mengapresiasi apa yang dimaksud dengan prognosis millennium ketiga, dengan triumvirat yang diwariskan Imam.

    Sampai saat ini dunia bergerak menuju apa yang disebut oleh Samuel Huntington sebagai “Benturan Peradaban” . Suatu situasi hipotetis (prediksi yang belum terbukti) di mana Sistem-Sistem Nilai yang menopang peradaban sepanjang sejarah manusia akan beradu, untuk menjadi fihak yang berdiri terakhir. Bergilirnya ‘Sistem Nilai’ menjadi yang dominan di panggung dunia diramalkan oleh Huntington akan mencapai babak final di millennium ketiga. Mungkin apa yang dibicarakan Huntington ada, dalam rangka memenuhi ramalan yang dibuat Fukuyama tentang The End of History .

    Samuel Huntington bukanlah orang sembarangan di Amerika Serikat. Dia adalah seorang ilmuwan yang diperhatikan oleh para pembuat kebijakan di sana. Seperti, konon, Miriam Budiardjo di Indonesia pada era Orde Baru. Jadi apa yang dibicarakan oleh Huntington, itulah sebenarnya apa yang ada di dalam kepala para pengambil kebijakan di Amerika Serikat dan sekutunya. Kesimpulannya, para pengambil kebijakan Amerika Serikat dan seluruh sekutunya sudah bersiap-siap sejak lama dan kini sedang memerangi ‘Sistem Nilai’ di luar ‘Sistem Nilai’ mereka. Termasuk memerangi Islam.

    “Bagaimana dengan Ummat Islam?” Sejak tahun 1924 M tak ada satupun kesatuan politik yang mendeklarasikan keberadaannya sebagai pelindung Ummat Islam. Praktis, baru sampai kemudian pada tahun 1949 di Indonesia, dunia mengenal sebuah perjuangan Ummat Islam yang berani memproklamasikan sebagai kedaulatan politik Ummat Islam (Negara Islam Indonesia dalam 7 agenda besarnya jelas-jelas hendak bertindak sebagai embrio bagi Khilafah Islamiyah). Kenyataan sejarah memperlihatkan, bahkan semenjak kemunduran Turki Usmani, begitu banyak Ummat Islam di dunia yang harus menanggung perjuangan yang keras menghadapi kolonialisme negara-negara Eropa.

    Di sini lah letak penting kekuasaan. Ummat Islam mesti memiliki kekuasaan. Kekuasaan untuk bisa memerdekakan Ummat Islam. Kekuasaan dalam artian organisasi yang memiliki legtimasi formal yang diakui , yang memungkinkan penerapan seperangkat peraturan yang berdasar suatu ‘Sistem Nilai’ tertentu di wilayah tertentu. Karena tanpa kekuasaan tidak mungkin Ummat Islam bisa bebas menjalankan misinya di dunia ini. Kekuasaan yang dimaksud disini, bentuk kongkritnya adalah Dawlah Islamiyyah. Suatu kedaulatan politik lengkap dengan segala kelengkapan ekonomi, sosial, budaya dan hankam. Inilah yang diinsyafi oleh para sabiqun al awalun dulu saat merumuskan Negara Islam Indonesia. Perjanjian Renville yang kemudian memicu lebih jauh keinsafan ini pada waktu itu. Pada awalnya RI yang diproklamasikan tahun 1945 dianggap menampung aspirasi Ummat Islam Bangsa Indonesia. Tapi sejak ditinggalkannya Ummat Islam di Jawa Barat untuk berhadapan sendirian dengan Belanda, Ummat Islam Bangsa Indonesia sadar bahwa Ummat Islam Bangsa Indonesia harus kembali mengangkat senjata membentuk kedaulatan politik sepenuhnya berkhidmat pada Ummat Islam.

    Adapun kekuasaan takkan mungkin bisa dicapai tanpa kekuatan. Kekuasaan mustahil bisa dicapai tanpa kekuatan, seperti mustahilnya muncul api tanpa dibakarnya kayu atau minyak. Seperti Muhammad dahulu menegakkan kedaulatan politik di Yatsrib, beliau pun menegakkannya dengan harta, senjata dan nyawa. Hingga wajar bila Yatsrib berganti nama menjadi Madinah (Menurut beberapa ahli bahasa Arab kata Madinah berarti tempat tegaknya Din al Islam, tempat tegaknya ‘Sistem Nilai’ Islam). Begitulah Muhammad telah mencontohkan pada KITA. Wajar bila kesimpulannya bagi KITA: Dawlah takkan tegak kecuali dengan perjuangan, perjuangan yang memakai harta, senjata dan nyawa. “Lalu bagaimana kabar perjuangan KITA? Masihkah perjuangan KITA menggeliat memenuhi agenda Negara? Masihkah KITA konsisten dengan apa yang menjadi cita-cita Negara?”

    Yang menjadi hukum dasar bagi kekuatan adalah titik fokus. Sinar matahari yang menyebar takkan mampu membakar kertas. Tapi sinar matahari yang difokuskan oleh lensa cembung, kekuatannya bisa membakar kertas. Berbicara kekuatan bukan cerita tentang kuantitas, tapi berbicara tentang pengorganisiran kekuatan yang tersebar. Dari pelajaran lensa cembung ini semestinya KITA mendapat hikmah.

    Langkah pertama adalah refleksi atas perjalanan perjuangan KITA selama ini. Jawablah pertanyaan: “adakah perjuangan KITA masih memiliki kekuatan?” Langkah kedua adalah mengkonfigurasi ulang seluruh sistem perjuangan KITA. Pertanyaan yang mesti dijawab pada langkah ini: “pengorganisiran macam apa yang bisa membangkitkan kekuatan Negara Islam Indonesia di situasi kekinian?”

    Pemikiran di atas-lah yang menjadi renungan EMPIRIS, sekiranya ini-lah kerja KITA bersama ke depan. Tantangan dari luar sebegitu hebatnya, menantang KITA untuk mengimbanginya dengan kekuatan yang sama hebat, dengan kekuasaan yang sama hebatnya, dengan kedaulatan yang juga sama hebatnya, demi kemerdekaan Ummat Islam Bangsa Indonesia (UIBI), agar Ummat Islam dapat menjalankan misinya di dunia ini.

    Tanpa kekuatan yang bisa mengantar pada kekuasaan, tanpa kekuasan yang bisa menghasilkan kedaulatan, tanpa kedaulatan yang berarti tanpa kemerdekaan, bagaimana Ummat Islam bisa menghadapi Benturan Peradaban yang diwujudkan oleh penganut ‘Sistem Nilai’ non Islam? Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Semuanya itu menjadi tugas KITA. Semoga.

  6. POLITIK VAGINA

    Tubuh saya terasa berdesir seperti ada semilir angin yang terhimpun menjadi topan dan menghantam saya. Tapi, saya tidak terhuyung, meskipun limbung. Ini luar biasa. Tiba-tiba saja wajah perempuan yang ada dalam berita itu–yang diperkosa oleh ayah tirinya hingga melahirkan anak–terbayang jelas. Juga, bagaimana ia merintih, yang mengingatkan saya kepada salah satu novel Nh Dini. Saya dengar lirih suaranya, tak berani menolak ajakan ayah tirinya, tetapi tidak mau meladeninya. Ia takut. Ia gelisah. Ah wajahya, seperti wajah ribuan perempuan Bosnia yang diperkosa di arena peperangan Bosnia, yang diwawancarai Evi Ensler dan disusun menjadi buku, “Vagina Monologues”.

    Tahun 2001, sebuah esai Katha Pollit, seorang feminis, berjudul, “The Vaginal Politics” terbit di The National Edisi 15 Februari 2001. Esai itu sebuah penegasan atas fenomena opera “The Vagina Monologues” yang dipentaskan di Madison Square Garden, dan beberapa kota besar dunia lainnya dalam rangka hari Wanita Internasional. Di Indonesia pementasan diprakarsai Nurul Arifin dan rekan-rekan aktivis feminismenya dari Koalisi Perempuan Indonesia. Bagi Pollit, pementasan itu sebuah fakta atas kematian feminisme. “The Vagina Monologues”, in fact, tulis Pollit, “was singled out in time’s 1998 cover story “Is Feminism Dead?” as proof that the movement had degenerated into self-indulgent sex”.

    “The Vagina Monologues” diangkat dari buku hasil penelitian selama bertahun-tahun yang dilakukan Eva Ensler. Ensler sendiri menulisnya berdasarkan hasil wawancara setelah mengumpulkan fakta tentang pemerkosaan ribuan perempuan di medan peperangan Bosnia-Herzigovina. Inilah medan peperangan yang ingin dibah sebagai “penjagalan salah satu ras manusia diatas bumi”, karena setiap perempuan Bosnia diperkosa agar hamil sehingga lahir keturunan blasteran. Sementara para laki-laki dibnatai dan dikubur dalam satu liang tanpa upacara kematian dan tanpa doa apapun.

    Judul buku Ensler itu mengundang magis kata yang sangat feminisme. Sebuah kata tabu dalam pembicaraan formal, terutama bagi tata nilai masyarakat timur. Tapi, judul itu sendiri sudah berkomentar, membawa maknanya yang jamak. Sebuah diksi yang kaya. Yang menegaskan, buku ini akan menjadi sebuah karya yang laris, yang laku. Sebab, persoalan yang dibahasnya menjadi sangat universal.

    Ensler adalah seorang artis berdarah Italia. Ia membaca dan mendengar soal pembantaian ras manusia di Bosnia dengan cara memperkosa para perempuan, dan ia sangat terpukul. Lalu, tiba-tiba terpikir olehnya, bahwa pokok persoalan di Bosnia adalah “raga” pada setiap perempuan, yakni vagina. Dari sanalah penulisan itu berangkat. Dan Ensler berangkat ke berbagai negeri, yang terpokok soal perang Bosnia-nya sendiri, dan memperluas daerah wawasan penyelidikannya. Lebih 200 wanita dengan usia, profesi, jenis bangsa, yang terpokok di kalangan wanita Bosnia sendiri, diwawancarainya. Selain itu diwawancarainya wanita dari berbagai kalangan di Eropa, Amerika, asia, dan Afrika, dengan tema yang sama mengenai pelecehan, pekosaan, dan penindasan terhadap wanita.

    Dari hasil wawancara dan berbagai riset dan penyelidikannya inilah, ditulisnya buku berjudul Vagina Monologues. Dan, ternyata, buku itu mendapat sambutan meriah di seluruh dunia. Apa yang paling menarik dari isi cerita buku itu?

    Dari begitu banyak riset dan penyelidikan serta wawancara terhadap wanita, termasuk yang kena perkosaan pada perang Bosnia itu, dia merangkum apa sebenarnya hakekat “raga” yang “dibantai” oleh pemerkosa yang samasekali tak berhati manusia itu. Dalam dialog antara “raga” (pengganti istilah vagina), terbentuklah dan lahirlah dialog dari berbagai situasi tentang “raga” itu. Bahwa, raga ini janganlah hanya dilihat dari satu segi saja. Bukankah semua kita, termasuk yang sedang membaca tulisan ini, lahir dan keluar dari raga itu? Jadi, ketahuilah, raga ituu mengandung suatu kesucian, kesakralan, dan sudah seharusnya ditempatkan pada posisi yang atas, tinggi, berharga sangat.

    Diceritakan juga dalam dialog antara “raga” itu, terdengar jeritan keperihan, ketertindasan, kekerasan, kebiadaban, dan tangis yang mengiris-ngiris perih! Tetapi juga terdengar lahirnya bayi yang bersih dari dosa, tiba dan hadir ke dunia ini, atas buah cinta kasih antara Ayah dan Bunda si bayi itu, penuh kemesraan. Apakah perlakuan diri manusi lupa akan semua itu? Ketahuilah “raga” yang “kalian” perkosa itu, dari situlah kalian lahir dan menjadi “kalian” yang kini ini!

    Di Indonesia, apa yang dipentaskan Nurul Arifin bersama rekan-rekan sesama aktivis feminisme, tak banyak yang melihat opera ini seperti Pollit membuat sebuah simpul. Tapi, sejak itu, satu hal yang bisa ditangkap adalah kaum perempuan mulai meletakkan gerakan de-feminisme di Indonesia. Sebuah gerakan “Politik Vagina” sebagai wujud kemuakan terhadap feminisme. Perempuan Indonesia tidak percaya lagi gerakan kesetaraan gender yang telah berlangsung cukup lama di Tanah air akan mampu mewujudkan emansipasi antara perempuan dengan laki-laki. Karena komitmen sosial para aktor pemerintahan dan elite politik untuk mewujudkan tatanan sosial-politik yang adil dan demokratis di mana gerakan kesetaraan gender inheren di dalamnya, tidak pernah bergeser dari nilai-nilai warisan leluhur budaya Timur yang lebih memberi peran kepada laki-laki sebagai “kepala rumah tangga”.

    Makanya, daripada mengaharapkan feminisme—yang dalam banyak hal membentur sekat-sekat sosio-kultural di lingkungan masyarakat—sebagai gerakan sosial memperjuangkan hak dan keadilan bagi kaum perempuan, perempuan satrawan lebih memilih “membunuh” gerakan itu sebagai wujud pemberontakan atas nilai-nilai yang berlaku secara turun-menurun, lewat gerakan “Politik Vagina”.

    “Politik Vagina” merupakan gerakan untuk mempersoalkan seks bukan semata sebagai persoalan seksualitas, karena seks bukan dunianya kaum laki-laki. Hal ini diwujudkan lewat citra perempuan sebagai sosok-sosok yang begitu kuat, gelisah, mandiri, radikal, memberontak, dan tak terlalu pusing dengan nilai-nilai kewanitaannya. Mereka tidak merasa risih bicara soal seks dengan siapa saja, bahkan dengan laki-laki yang baru dijumpai di sebuah terminal dan belum dikenal secara akrab. Karena seks tidak ada sangkut-pautnya dengan moralitas, melainkan soal orgasme.

    Di dalam dunia kesusastraan kita, akar gerakan “Politik Vagina” ini, sebetulnya, suah ditemukan dalam puisi-puisi Dorothea Rosa Herliany, terutama dalam antologinya, “Kill The Radio”. Tapi, gerakan ini baru menemukan eksistensinya dalam diri Ayu Utami, ketika ia menghasilkan novel “Saman”. Belakangan, karya-karya perempuan sastrawan lainnya bermunculan, sebut saja Clara Ng, Fira Basuki, Herlinatien, Oka Rusmini, Djenar Mahesa Ayu, Dewi Lestari, dan sebagainya.

    Bagi Pasanti Djokosujatno, Ayu Utami dianggap sebagi pelopor penulisan novel seks, dan harus disebut dalam setiap pembicaraan tentang seks dalam sastra. Ia bukan hanya wanita pertama yang berani berbicara secara blak-blakan tentang seks dalam romannya yang radikal, pada saat banyak orang masih sungkan berbicara tentang seks, tetapi juga pengarang pertama yang menulis novel yang mengungkap seks dengan berbagai permasalahannya (menyangkut wanita pula) secara terbuka.

    Tapi, meskipun demikian, agama (Islam) punya aturan main sendiri soal emansipasi. Persoalannya, manusia, tidak pernah sanggup menganggap nilai-nilai dan ajaran agama itu sebagai fakta yang sebenarnya. Sebab, agama selalu diposisikan sebagai hal irrasional, padahal agama mencakup segala hal rasional, irrasional, dan spiritual di dalamnya. Semoga para perempuan Indonesia tidak salah memilih jalan.

    Oleh: Muharika (Mahasiswi Unila)
    Aktivis EMPIRIS Biro Lampung

  7. Ya, meski blog nya masih kurang bagus karena yang mbuat juga baru belajar.Empiris ni dari mana? penting sama Muslim

  8. to all my friends ttp semangat dalam menegakkan kalimat Allah Azza Wa Jalla dan demi tegaknya SYARI’AT ISLAM

    islam tak akan pernah berdiri tegak tanpa adanya sebuah pengorbanan dari seorang mujahid seperti kalian semua

    Ingatlah saudara2 kalian yang berada d PALESTINA yg tengah d zholimi oleh kaum zionis dalam setiap doa2 u…..

    ALLAHUAKBAR…………….!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    • Ketika saudara kita dibantai oleh orang kafir Israel, janganlah kita bersenang-senang saja. Permasalahan di Palestina tidak akan selesai bila kita hanya membantu dengan obat-obatan saja, seperti halnya anak kecil yang ditindas oleh petinju kita hanya membantu hansaplast saja so setelah anak kecil tu dihajar terus dikasih hansaplat saja, habis itu dihajar ma petinju lagi. Paling tidak kita bisa membantu dengan tenaga untuk membantu mujahid di palestina. Uang yang segitu banyak tidak hanya dibelikan obat dan bahan makanan saja, klo bisa dibelikan tank atau senjata.
      Allahu Akbar!!!!!!!

  9. @ssalamu’alaikum,
    teruntuk semua akhi n ukhti yang berada d fkui don’t forget to always amar ma’ruf nahi mungkar,

    @pabila u melihat kemungkaran mk cegahlah dengan “TANGAN” u ( perbuatan ), bila tdk sanggup mk cegahlah dngn ” LISAN ” u, bl tdk sanggup mk cegahlah dngn ” HATI” ( dengan cara membenci perbuatan tsb ) u, dan itu adalah selemah-lemah iman

    so guy’s KEEP SPIRIT n ISTIQOMAH dlm menegakkan syari’at islam, tentunya dngn d mulai dr diri sendiri dulu……..

  10. ldkfkui tunjukkan tarismu lagi… waaung….
    ALLAHUAKBAR
    politama kayaknya di ambang kehancuran moralnya

    • Allahu Akbar!!!! ketika dihadapn kita terjadi kemaksiatan, apakah kita akan lari darinya???

    • he3x mang macan y??? ko’ pake mengaum…????
      doain ja ya mg temen2 dsini bs istiqomah buat berdakwah, tentunya prestasi kul nya jgan smpe lp y…..🙂

  11. tmen lama mas deanet.haahaa…sering2 aja bkunjung…pkoknya nek wanita mcem tu di bilang akhwat…kami2 ga setuju…n tetep akan kami protes….wah bisa cepet kiamat nanti..

  12. boleh aja langsung mendakwa wnt spt itu tp berfikir luaslah cari tau mengapa itu bisa terjadi. Sebagai saudara yg baik shrsnya mrngingatkan.
    Siapa tau dia jg menderita atau tertekan dng keadaan spt itu

  13. hii mas deanet zahra ga tahu sih ya…wanita macem mana yg qt bicarakan..biarin saja..lha udah jelas macam barang obral gitu kq..hee masih di suruh brpikir luas..gimana ngingetinnya..??harus nya sesama wanita tu kudu saling menjaga…

  14. assalamu’alaykum……
    to para pejuang – pejuang dakwah:
    ketika jalan dakwah ini banyak ditinggalkan oleh kalayak ramai, ketika jalan dakwah ini banyak d remehkan oleh orang lain, walau tak banyak yang mau tuk mengikuti jalan yang jauh dan terjal mendaki ini, yaitu jalan yang penuh dengan cobaan, namun tetaplah teguh ISTIQOMAH dan BERSABAR…….
    karena dalam hasil dari dakwah ini tak kan dapat langsng kt liat hasilnya, krn mngkn hslnya akan tampak stlh beberapamasa yang akan datang,,,,,,,

    ibarat menanam bunga dari bijinya, kita tak kan dapat lngsng menikmati indahnya bunga trsbt, namun itu semua bth wktu dan proses yang harus di jalani oleh seorang penanam, yang mana ia hrs menyirami, memupuk, dan merawtnya, sehingga insya Alloh dengan ketekunan, keistiqomahandan kesabaran, serta diikuti keilmuan yang syar’i, kan tumbuhlah sekuntum BUNGA yang indah, yang mngkn keindahannya tak kan dapt di nikmati oleh sang penanam, namun keindahan BUNGA tersbt dpat dirasakan oleh generasi selanjtnya,
    jd tetplah istiqomah ya akhi, ya ukhti………….

    • Amin, semoga orang yang berjuang demi islam mendapatkan jannahnya Allah dan semoga kita termasuk didalamnya

  15. hayoo…….. kapan mau ngadian bedah bukunya……..
    jadi ga’ nih…????? 🙂

    • buku kiamat 2012. bersam ust abu fatiah al-adnani.
      gimana? do’akan ya, semoga dapat terlaksana…..

    • buku “kiamat 2012” bersama ust abu fatiah al-adnani do’akan ya … semoga acara jadi dan lancar lancar

      • Ndra yang sabar y atas ujian yang sedang antum alami, mg g buat semangat antm futur, Alloh beserta hamba2 yang sabar, na’am…..?????

  16. assalamu’alaykum wr wb.
    salam dari gamais itb (padahal bukan pengurus =p eh, sekarang gamais lagi suksesi loh), LDSAPPK (lembaga dakwah sekolah arsitektur, perencanaan, dan pengembangan kebijakan) ITB, dan LDPS Arsitektur (lembaga dakwah program studi arsitektur) ITB.

  17. Assalamu’alaykum. . .

    wah…rame bgt za. to all saudara2 ana di politama khususnya fkui. selamat mengerjakan TA…
    klu dah pendadaran jng lupa makan2nya.
    Hi……..3x
    tak lupa keep semangat & istiqomah teruzzzzzz….

    • wa’alaikum salam…
      iya semoga jadi tambah rame,
      yups insya allah ga lupa
      makasih sobat….

  18. Bismillah,afwan ana mo tanya pa anggota baru ga da ya kok yg terpampang hanya anggota lama yg mo ngerjain TA, afwan apabila kata2 ana da yg menyinggung antumna sexan

    • afwan juga, iya insya allah nanti tak tambahkan daftar nama anggota yang baru.
      terima kasih…

  19. assalamualaikum..

    tolong di kabari kalu ada info reuni anggota LDK/FKUI…via email..ya kawan
    terima kasih..

    keep istiqomah brother…

  20. training ESQ itu apa ya n wah…….. kegiatanya ternya c ukup lumayan banyak ya………sibuk nih………….moga dapet imbalan yang setimpal dan berlanjut sampai angin berhenti

  21. ah ternyata orang yang menjadi anggota ternya harus juga maha siswa sana ya jadinya aku nggak bisa dong ah…….kasihan aku

      • itu ngomongin akwat antara Mr Deanet dg om Jalan terjal mendaki, klo antum mo nglanjut silakan…

  22. Mulai saat ini, komentar2 yg kami rasa kurang uke, sekiranya tidak sopan akan kami hapus, berkata-katalah yang baik, tidak menyinggung pihak lain dan apabila berdebat, berdebatlah dg baik…

    Terima kasih….

  23. bismillah,afwan sebelumnya ana mo koreksi sebenarnya bukan berdebat karena islam bukan untuk diperdebatkan tapi diforum ini qta mau bertabayyun untuk meluruskan masalah gitu,jazakumulloh

Komentar ditutup.